Sabtu, 12 Juli 2014

Pancuran Tirta Sudamala

      Bagi masyarakat Bali yang senang melakukan kegiatan melukat (membersihkan diri secara niskala), pancuran Tirta Sudamala bisa dijadikan salah satu tempat untuk melukat. Pancuran Tirta Sudamala berada di tebing sebuah sungai yang termasuk wilayah Banjar Pekraman Sedit, Bebalang, Kabupaten Bangli, Provinsi Bali, Indonesia.
         Untuk mencapai pancuran tersebut pengunjung dapat menggunakan kendaraan roda empat maupun kendaraan roda dua. Hanya saja kendaraan tersebut tidak bisa langsung sampai ke lokasi pancuran.  Pengunjung yang menggunakan kendaraan roda empat dapat memarkir kendaraannya di tempat parkir yang telah disediakan, kemudian  berjalan kaki menuruni jalan selebar 3 meter sejauh sekitar 300 meter. Kalau tidak mau jalan kaki, pengunjung dapat juga menggunakan jasa ojek. Sedangkan bagi pengunjung yang menggunakan kendaraan roda dua dapat memarkir kendaraannya di luar areal pura Tirta Sudamala kemudian berjalan kaki sejauh sekitar 100 meter untuk bisa mencapai lokasi pancuran.     
      Kegiatan melukat dapat diawali dengan kegiatan persembahyangan di pelinggih (tempat pemujaan) yang ada di lokasi pancuran. Selesai sembahyang pengunjung disarankan untuk membersihkan diri (mandi) terlebih dahulu di air sungai yang jernih dilanjutkan dengan membersihkan diri di pancuran yang ada di pinggir sungai dan di air klebutan yang terletak disamping kanan pancuran.
     Apabila tahapan membersihkan diri di areal sungai telah selesai barulah dilanjutkan dengan membersihkan diri di pancuran yang letaknya di tebing sungai.  Ada sembilan pancuran setinggi 
sekitar empat meter, dan ada tiga lagi pancuran yang posisinya lebih rendah. Di pancuran ini pengunjung dapat membersihkan diri  mulai dari pancuran yang posisinya paling selatan (kanan) terus berurutan ke pancuran yang disebelah utara (kiri) sampai ke pancuran yang terakhir. Dan setelah selesai membersihkan diri di pancuran terakhir, pemangku (kalau ada) akan memerciki pengunjung dengan tirta yang telah disediakan. Oh ya, sekadar mengingatkan bagi pengunjung yang akan melukat agar menggunakan pakaian adat ringan dan tidak menggunakan sabun atau shampoo.
       Setelah proses pembersihan diri berakhir dan telah berganti pakaian bagi pengunjung yang mau bisa melanjutkan bersembahyang di Pura Tirta Sudamala yang berlokasi disamping kanan lokasi pancuran


Baca Selanjutnya......

Sabtu, 29 Maret 2014

Nyepi 2014

Baca Selanjutnya......

Senin, 11 Maret 2013

Nyepi 2013

Baca Selanjutnya......

Kamis, 22 Maret 2012

Nyepi




Baca Selanjutnya......

Selasa, 31 Januari 2012

Memperingati Hari Kelahiran

Tanggal 26 Januari 2012 yang lalu adalah hari Kamis Wage wuku Sungsang bertepatan dengan peringatan hari kelahiran pertama dari cucu pertama saya. Peringatan hari kelahiran cucu saya disebut dengan weton atau oton atau otonan. Dengan demikian cucu saya saat itu sudah berumur satu weton/oton.

Kata weton adalah berasal dari kata wetuan menjadi weton menjadi oton/otonan. Kata wetu berarti keluar atau lahir. Jadi upacara weton atau oton/otonan ialah peringatan hari kelahiran tepat pada pertemuan hari Sapta Wara, Panca Wara, dan Pawukon yang sama. Pertemuan hari Sapta Wara, Panca Wara, dan Pawukon yang sama akan datang setiap 6 (enam) bulan Bali/Jawa atau setiap 210 hari sekali.

Misalnya, cucu saya yang lahir pada hari Kamis Wage wuku Sungsang tanggal 30 Juni 2011 maka weton atau oton/otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap 6 (enam) bulan Bali/Jawa atau 210 hari sekali dengan mengabaikan tanggal dan bulan kelahiran menurut perhitungan tahun Masehi. Berbeda halnya dengan peringatan hari ulang tahun yang datang setahun sekali bertepatan dengan tanggal dan bulan kelahiran menurut perhitungan tahun Masehi dengan mengabaikan hari kelahiran.

Bagi umat Hindu Bali hari kelahiran adalah salah satu hari yang tidak dilupakan. Oleh karenanya hari kelahiran yang disebut weton/oton/otonan diperingati atau dirayakan secara keagamaan dengan upakara yadnya. Apabila weton/oton/otonan seseorang dilaksanakan dengan upakara Yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan. Apabila upakaranya lebih besar dipimpin oleh Pemangku, dan apabila upakaranya tergolong utama akan dipimpin oleh Sulinggih (Pandita).

Ada hal yang unik pada saat pelaksanaan weton/oton/otonan. Selain mengantarkan doa-doa untuk orang yang punya weton/oton/otonan juga dilakukan pemberian simbol, yaitu simbol benang yang dilingkarkan di pergelangan tangan orang yang punya weton/oton/otonan. Makna simbolis dari gelang benang yang dilingkarkan di pergelangan tangan orang yang punya weton/oton/otonan tersebut adalah :

a. Benang memiliki konotasi “beneng” yang berarti lurus. Benang adalah salah satu alat yang sering dipakai membuat lurus sesuatu yang diukur. Jadi benang bermakna agar hati si pemakai (yang punya weton/oton/otonan)selalu ada di jalan yang lurus atau benar.

b. Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus. Maknanya agar orang yang punya weton/oton/otonan mempunyai kelenturan hati sehingga tidak mudah patah semangat dalam mengarungi kehidupan.



Catatan :
Sapta Wara : perhitungan hari dalam seminggu yaitu: Minggu/Redite, Senin/Soma, Selasa/Anggara, Rabu/Buda, Kamis/Wraspati,Jumat/Sukra, Sabtu/Saniscara.
Panca Wara : hari pasaran ada 5 yaitu : Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon
Pawukon : berjumlah 30 wuku yang masing-masing berumur 7 hari mulai dari hari Minggu, yaitu : Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Tulu, Gumbreg, Wariga, Warigadian, Julungwangi, Sungsang, Dungulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan, Matal, Uye, Menail, Prangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Kelawu, Dukut, Watugunung



Baca Selanjutnya......

Sabtu, 21 Januari 2012

MAKNA RELIGIUS DAN SOSIAL DARI MEJAUMAN

Mejauman adalah nama suatu upacara yang merupakan bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat Bali yang umumnya dilaksanakan setelah upacara pokok pengesahan perkawinan selesai. Mejauman merupakan upacara kunjungan resmi religius kedua mempelai dari rumah keluarga pihak laki-laki (purusa) ke rumah keluarga pihak perempuan (pradana). Nama lain dari mejauman adalah : ngaba jaja, ngaba ketipat bantal, atau ngunya.

Walaupun tidak akan merubah keabsahan perkawinan yang telah dilaksanakan mejauman tetap dipandang sebagai satu acara yang penting dan penuh arti. Oleh karena itu keluarga pihak laki-laki sangat mengusahakan agar upacara perkawinan anak laki-lakinya dapat dilengkapi dengan upacara mejauman. Dengan melaksanakan upacara mejauman nilai perkawinan secara keagamaan dan sosial dipandang akan menjadi lebih berbobot terutama di bidang pertalian kekerabatan antara keluarga asal pihak laki-laki dengan keluarga asal pihak perempuan. Disamping juga lebih memberi rasa tenang bagi kedua belah pihak.

Makna religius dari mejauman tampak dari kunjungan pihak keluarga laki-laki ke keluarga pihak perempuan yang dilengkapi dengan berbagai jenis sesajen yang akan dihaturkan di Pemerajan (tempat pemujaan keluarga) keluarga pihak perempuan. Sesajen yang dihaturkan di Pemerajan dengan diantar oleh rohaniawan dimaksudkan memohon pamitan mempelai perempuan kepada Bhatara/Bhatari leluhurnya, serta memohon perkenan dan restu para Bhatara/Bhatari leluhur, bahwa sejak saat itu si perempuan tidak lagi merupakan warga dalam rumah asalnya melainkan sudah menjadi warga dalam rumah keluarga suaminya. Begitu juga anak-anak yang akan dilahirkan nantinya bukanlah pelanjut warga rumah asalnya melainkan merupakan generasi penerus dalam keluarga suaminya.

Dalam aspek sosial mejauman merupakan permohonan pamitan mempelai perempuan kepada orang tua atau keluarganya. Dalam hal ini akan terdapat pemutusan ikatan antara si perempuan dengan orang tua atau keluarganya. Pemutusan ikatan dimaksud bukanlah pemutusan ikatan kasih sayang antara orang tua dengan anak melainkan pada pemutusan ikatan dalam segi perlindungan hukum orang tua (guru rupaka), perdata, pewarisan.

Bagi mempelai laki-laki sebagai suami baru mejauman merupakan saat baginya untuk memohon restu mertua bagi keselamatan mereka, serta mulai menerima tanggung jawab mengayomi isteri. Juga merupakan saat yang tepat bagi si laki-laki memperkenalkan diri kepada prajuru (aparatur) desa/banjar, mengikat tali kekerabatan baru dengan segenap keluarga si isteri.

Begitulah makna pokok dari upacara mejauman pada perkawinan adat Bali yang ada baiknya dipahami oleh mereka yang melangsungkan perkawinan.

Baca Selanjutnya......

Jumat, 03 Juni 2011

Pesiraman Pura Dalem Pingit Sebagai Tempat Melukat


Pesiraman Pura Dalem Pingit dan Pura Kusti adalah salah satu tempat yang dipercaya sebagai tempat melukat (membersihkan diri secara niskala). Pada hari-hari tertentu Pesiraman (permandian) Pura Dalem Pingit dan pura Kusti yang berlokasi di Banjar Sebatu Desa Sebatu Kecamatan Tegalalang Kabupaten Gianyar, Bali, Indonesia ini banyak dikunjungi oleh orang-orang yang ingin melukat.


Saya sekeluarga bersama besan yang tinggal di Sulawesi Selatan dan kebetulan datang ke Bali berkesempatan mengunjungi pesiraman ini pada hari Minggu, 22 Mei 2011. Dengan kendaraan pribadi perjalanan dari Denpasar ke Sebatu ditempuh selama sekitar 1 jam 20 menit. Pukul 10 lewat 10 menit hujan gerimis menyambut kedatangan kami di tempat parkir. Pagi itu tampak kendaraan roda empat dan roda dua milik pengunjung hampir memenuhi halaman parkir yang tersedia.

Setelah istirahat beberapa menit, kami langsung menuju ke tempat pesiraman yang berjarak sekitar 250 meter. Perjalanan dilakukan dengan berjalan kaki menuruni jalan setapak yang berkelok-kelok dan berundag-undag. Pada beberapa ruas jalan dipasangi pagar pengaman dari besi. Di bagian sisi kiri dan kanan jalan tumbuh pepohonan menambah sejuknya suasana pedesaan.

Sesampainya di pesiraman (permandian) pengunjung tidak langsung melukat. Ada tahapan yang sebaiknya diikuti oleh pengunjung. Memasuki area pesiraman, pengunjung akan melewati pelinggih (tempat pemujaan) pesiraman. Di hadapan Pelinggih (tempat pemujaan) pesiraman inilah sebaiknya terlebih dahulu pengunjung melakukan persembahyangan sebagai pemberitahuan akan melukat. Selesai sembahyang barulah pengunjung melanjutkan tahap kedua yaitu melukat di pesiraman. Pada saat melukat pengunjung dihimbau untuk menggunakan pakian adat. Karena lokasi melukat tidak terlalu lebar pada saat ramai maka pengunjung harus rela antre dan sabar menunggu giliran. Selesai melukat dilanjutkan dengan tahap ketiga yaitu melakukan persembahyangan di pelataran di depan pesiraman sebagai ungkapan rasa terimakasih.

Apabila ketiga tahapan tersebut telah dilaksanakan maka selesailah kegiatan melukat. Selanjutnya pengunjung bisa berganti pakaian atau langsung pulang. Bagi pengunjung yang ingin menikmati sejuknya alam sambil minum kopi, tidak perlu kuatir. Di sekitar lokasi pesiraman ada warung-warung yang melayani kebutuhan pengunjung.






Baca Selanjutnya......

Kamis, 20 Januari 2011

ALASAN KETIDAKHADIRAN ORANGTUA SI WANITA SAAT UPACARA PERKAWINAN

Setelah selesai acara peminangan puteri pertama saya, saya menyampaikan pesan kepada salon besan bahwa saya dan isteri tidak akan datang ke rumahnya pada saat upacara perkawinan anak-anak nanti. Ketidakhadiran kami itu saya sampaikan di hadapan anak dan calon menantu. Saat itu calon menantu saya bertanya, “Mengapa Bapak tidak tidak bisa hadir ?” Saya tidak menjawab. Anak saya yang memberi penjelasan bahwa ketidakhadiran saya dan isteri pada saat upacara perkawinan mereka karena memang adatnya dari dulu sudah begitu.


Mendengar jawaban yang sederhana itu saya menangkap kesan ada rasa ketidakmengertian di wajah calon menantu saya. Mungkin ia belum bisa menerima alasan yang disampaikan anak saya itu. Mungkin pula ia mempunyai pandangan, bahwa di saat seorang anak mengalami satu tonggak sejarah dalam hidupnya yaitu upacara perkawinan kehadiran mertua sangat diharapkan. Bukankah umumnya kehadiran dan terutama restu orang tua kedua belah pihak merupakan satu ciri dan satu inti dari upacara perkawinan ? Restu orang tua akan memberi kekuatan dan ketenangan batin bagi si pengantin dalam memasuki hidup baru

Saya memahami perasaan calon menantu saya. Di Bali, orang-orang mempunyai pandangan bahwa memang dipantangkan kehadiran orang tua mempelai wanita di saat upacara perkawinan berlangsung di rumah pengantin pria. Adanya pantangan inilah yang belum diketahui oleh calon menantu saya, serta apa motif pantangan hadir di rumah menantu bagi orang tua mempelai wanita di saat upacara perkawinan anaknya.

Ketidaktahuan tentang pantangan dan motif pantangan seperti tersebut di atas tidak hanya dialami oleh calon menantu saya saja. Bisa jadi anak-anak muda yang lain ada juga yang belum mengetahuinya. Bahkan ada orang tua yang secara jujur mengatakan bahwa ia tidak mengetahui adanya pantangan hadir di rumah menantu saat upacara perkawinan berlangsung. Ini menandakan landasan motivasi tentang pantangan tersebut masih perlu dimasyarakatkan agar anak-anak muda yang akan melangsungkan perkawinan mempunyai pemahaman dan tidak mempunyai pandangan yang negative atas ketidakhadiran mertua pada saat upacara perkawinan berlangsung. Juga para orang tua mempelai wanita tidak “salah melangkah” yang dapat berseberangan dengan opini masyarakat yang umumnya masih dipertahankan.

Adapun landasan pantangan kehadiran orang tua mempelai wanita di saat upacara perkawinan berlangsung di rumah pengantin pria adalah landasan penetapan tata krama karena perbedaan derajat atau kedudukan antar mertua dan menantu dalam pertalian kekeluargaan yang baru. Kedudukan mertua tentu saja sejajar dengan orang tua. Sedangkan menantu adalah berderajat atau berkedudukan bawahan dari mertua dan orang tua.

Bagaimanakah sepantasnya cara berhubungan di saat awal antara menantu dengan mertua ? Inilah yang melahirkan pantangan tersebut. Jelasnya, pihak yang berkedudukan lebih rendahlah yang harus datang menghadap ke tempat pihak lain yang lebih tinggi. Si menantulah yang harus datang menghadap mertua. Waktu untuk itu memang disediakan, biasanya pada saat “mejauman”. Bila dilakukan sebaliknya maka akan “tulah/kualat” pengantin baru tersebut. Tindakan sumbang, apabila mertua mengunjungi atau mengiringkan menantu terlebih dahulu. Tindakan ini dinamakan “nyulubin pikang menantu” (arti bebasnya : menyeruak di bawah selangkangan menantu). Opini ini di masyarakat umumnya masih dipertahankan.

Upacara puncak perkawinan dilakukan di rumah pengantin pria. Orang tua pengantin pria selaku penyelenggara utama. Kedudukannya selaku penyelenggara utama telah dengan sendirinya merupakan perwujudan restunya terhadap perkawinan anaknya. Sedangkan mertua, walaupun pantang hadir, memberikan doa restu dari rumahnya supaya kedua mempelai tidak tulah/kualat.

Setelah puncak upacara perkawinan selesai, kedua mempelai dengan membawa sesajen (biasanya sesajen/upakara ketipat bantal atau jauman ) diantar oleh keluarga pihak pria datang ke rumah asal mempelai wanita untuk menghadap pertama kepada mertua serta memohon restunya. Termasuk bersembahyang kepada leluhur di Merajan mempelai wanita. Restu yang diberikan oleh mertua dapat diwujudkan pula dengan dibuatkan sesajen yang di”ayab” oleh kedua mempelai, diberikan seperangkat pakaian pesalin, makan saling suap, dan lain-lain menurut adat setempat.

Kesimpulannya, dalam perkawinan adat Bali soal restu orang tua merupakan unsur yang penting. Karena itu saat dan tata cara pemberiannya diatur menurut tata krama yang semestinya dengan tetap mempedomani mana yang “sor” (kedudukan lebih rendah) dan mana yang “singgih” (kedudukan lebih tinggi). Pihak yang kedudukannya lebih rendahlah (menantu) yang datang menghadap memohon restu kepada yang kedudukannya lebih tinggi (mertua), bukan sebaliknya.




Sumber : I Gusti Ketut Kaler, 1994, Butir-Butir Tercecer Tentang Adat Bali 1, Denpasar: CV. Kayumas Agung


Baca Selanjutnya......

Selasa, 07 Desember 2010

Atribut Lembaga Banjar

Bagi masyarakat Bali, kata banjar tentu sudah tidak asing lagi. Mereka yang bertempat tinggal (menetap) di suatu wilayah di Bali akan diikat dalam satu lembaga sosial yang dinamakan banjar. Banjar merupakan lembaga sosial atas dasar ikatan wilayah tempat tinggal.

Banjar, adalah merupakan pusat komunitas sekelompok masyarakat dengan subsistem dari sebuah desa yang memiliki kesatuan sosial adat baik dalam suasana duka maupun dalam suasana suka. Sebagai bentuk komunitas kecil, maka banjar di Bali memiliki peranan yang sangat penting sebagai lembaga sosial tradisional maupun sebagai wadah kegiatan upacara adat maupun upacara agama. Disamping itu banjar juga sebagai wadah pelaksanaan dari berbagai kegiatan baik dalam bidang ekonomi, masyarakat, maupun berbagai kegiatan pemerintah, seperti pendidikan, kesehatan, Keluarga Berencana, dan lain-lain.

Sesuai dengan fokus fungsinya, banjar dibedakan atas Banjar Adat dan Banjar Dinas. Banjar Adat dengan fokus fungsinya dalam bidang adat dan agama, dan secara struktural menjadi bagian dari Desa Adat. Banjar Adat dipimpin oleh Kelian Banjar Adat. Sedangkan Banjar Dinas dengan fokus fungsinya dalam bidang administrasi dan secara struktural menjadi bagian Desa Dinas. Banjar Dinas dipimpin oleh Kepala Dusun.

Sebagai lembaga sosial, banjar mempunyai atribut. Atribut diartikan sebagai lambang atau simbol sebagai ciri khas suatu banjar. Atribut/lambang/simbol sebagai ciri khas suatu banjar, diantaranya :

a. Bale Banjar

Bale (bahasa Bali), juga berarti “balai” (bahasa Indonesia) yang artinya gedung, rumah (umum), atau bangunan terbuka. Bale banjar mengandung arti suatu bangunan terbuka yang digunakan untuk kepentingan bersama warganya. Bale banjar juga merupakan balai atau bangunan tempat memusyawarahkan suatu masalah yang dihadapi oleh krama (masyarakat) banjar. Balai banjar juga dapat dipergunakan untuk melakukan suatu aktivitas oleh krama banjar, seperti kegiatan sosial. Umumnya lokasi bale banjar terletak pada lokasi yang mudah dicapai oleh krama (masyarakat) banjar.

b. Bale Kulkul dengan Kulkul

Bale (balai) Kulkul dengan kulkulnya (kentongan) merupakan salah satu atribut/lambang/simbol lembaga banjar. Kulkul (kentongan) merupakan alat komunikasi tradisional yang masih dilestarikan di daerah Bali. Bale (balai) kulkul dengan kulkul (kentongan) diadakan digunakan untuk mengumpulkan warga banjar pada waktu akan sangkep atau rapat, ada kematian, bergotong royong, ada bencana, atau ada kegiatan lain, dengan cara memukul atau membunyikan kulkul (kentongan). Tidak sembarang orang dibolehkan memukul atau membunyikan kulkul (kentongan) kecuali kesinoman atau juru arah (orang yang bertugas menghubungi warga banjar atas perintah Kelian Banjar) atas ijin Kelian Banjar.

c. Pura Banjar

Bertempat di arah timur atau utara dari areal banjar dibangun bangunan pelinggih (bangunan suci) dari Pura Banjar. Pura Banjar merupakan linggih (stana)Ida Bhagawan Panyarikan atau Ida Ratu Gede Panyarikan. Pura Banjar merupakan tempat krama banjar untuk melaksanakan aktivitas keagamaan dalam rangka memuja dan berbakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.
Setiap aktivitas yang dilakukan krama banjar di balai banjar terlebih dahulu dilakukan “matur piuning” (memberitahukan/mempermaklumkan) ke hadapan Ida Ratu Gede Panyarikan memohon agar Beliau memberikan tuntunan serta rahmat atas kegiatan yang dilaksanakan.

Sumber : Berbagai sumber


Baca Selanjutnya......

Selamat Menempuh Hidup Baru, Anakku

Hari Jumat, 26 Nopember 2010 merupakan hari yang membahagiakan bagi kami termasuk keluarga besar kami, karena pada hari itu dapat mengantarkan putri kami ke depan pintu gerbang pernikahan untuk membangun sebuah rumah tangga baru. Orangtua mana yang tidak bahagia apabila dapat menyaksikan pernikahan putrinya tercinta.

Walaupun kini jumlah anggota keluarga kami berkurang lagi satu orang tetapi kami, aku dan isteri, tidak terlalu merasa kehilangan. Putri kami telah melakukan apa yang telah pernah aku dan isteri lakukan. Dan, kami merasa sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk sedapat mungkin mengupacarai pernikahan putra-putrinya dengan orang yang dicintai, selain tanggung jawab memelihara dan memberi pendidikan yang layak.

Tidak terasa sudah 24 tahun 7 bulan lebih ia hadir di tengah-tengah kami. Rasanya baru kemarin ia hadir melengkapi kebahagiaan kami. Ia adalah anak perempuan pertama dari buah cinta kami. Sebagai anak perempuan pertama tentunya ia mendapat perhatian lebih dari keluarga besar kami. Walaupun sebagai anak pertama yang mendapat perhatian lebih tidak menjadikan ia anak yang dimanja.

Setelah melewati tahap pertama dari kehidupan yaitu tahap brahmacari sebagai tahap belajar, menuntut ilmu, membekali diri dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, kini putrid sulung kami telah memasuki tahap kedua dari kehidupan yaitu, grehasta asrama. Grehasta asrama sebagai tahap memasuki jenjang berumah tangga. Selamat menempuh hidup baru, anakku. Semoga berbahagia !!!



Baca Selanjutnya......

Sabtu, 25 September 2010

Jalan-Jalan Ke Desa Transmigran

Pesawat yang kami tumpangi dari Bandar udara Ngurah Rai Denpasar mendarat mulus di Bandar udara Hasanudin sekitar pukul 08.15. Di pagi hari itu Kamis, 9 September 2010 sinar matahari cukup cerah. Hari itulah untuk pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Sulawesi Selatan. Selamat Datang di Sulawesi Selatan. Tulisan itulah yang menyambut kedatangan kami di salah satu ruang Bandar udara Hasanudin, Ujungpandang.

Ujungpandang bukanlah kota tujuan utama kami datang ke Sulawesi Selatan. Daerah yang menjadi tujuan kami adalah desa Kertaraharja, Kecamatan Tomoni Timur, Kabupaten Luwu Timur. Kami bermaksud mengunjungi orangtua teman anak kami yang menjadi salah satu transmigran asal Bali.

Di bandara Hasanudin kami dijemput dengan mobil yang telah dipesan oleh teman anak kami. Dengan mobil itulah kami diantar ke tempat tujuan. Jarak antara bandara Hasanudin dengan desa Kertaraharja yang kami tuju lebih kurang 600 km. Syukurnya perjalanan kami adalah siang hari sehingga sepanjang perjalanan kami dapat melihat keindahan daerah-daerah yang kami lalui. Salah satunya adalah rumah kayu, yaitu rumah-rumah yang terbuat dari kayu.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 11 jam akhirnya kami sampai ke tempat tujuan. Hari sudah malam ketika teman anak kami memberitahu bahwa kami telah memasuki desa Kertaraharja. Karena penasaran, dari dalam mobil saya mengintip keadaan desa transmigran tersebut. Walau dengan penerangan yang seadanya saya melihat bahwa keberadaan desa Kertaraharja sudah maju.

Kedatangan kami malam itu disambut dengan hangat oleh orangtua teman anak kami yang biasa dipanggil Pak Luh De. Beliau dan isterinya juga sangat ramah. Beliau menerima kami seperti keluarganya sendiri padahal sebelumnya kami belum pernah ketemu. Malam itu setelah mandi dan makan malam tidak banyak yang bisa kami perbincangkan. Karena kelelahan menempuh perjalanan jauh jam 22.00 kami pun tidur.

Besok paginya saya paksakan diri untuk bangun agak pagi. Setelah cuci muka saya sempatkan diri jalan-jalan di lorong depan rumah Pak Luh De. Ketika saya jalan-jalan itulah saya melihat matahari terbit “di barat”. Ah, Saya kira arah terbit matahari sudah terbalik. Setelah diberitahu arah utara, timur, selatan, dan barat, ternyata arah mata angin saya terbalik 180 derajat. Hee..hee..heeee...

Sore harinya, dengan berjalan kaki Bu Luh De berbaik hati mengantar kami berkeliling untuk melihat-lihat keadaan di sekitarnya. Kami melihat rumah-rumah para transmigran banyak yang bagus dengan pekarangan yang cukup luas. Mereka hidup dari hasil pertanian dengan lahan yang cukup luas. Dan juga dari perkebunan coklat. Semua keberhasilan itu bisa terujud adalah hasil kerja keras para transmigran. Tidak mudah memang perjuangan mereka. Keuletan dan kerja keras yang tidak mengenal menyerah dari mereka kini telah membuahkan hasil. Hasil itulah yang kini mereka nikmati, sampai-sampai ada yang berprinsip tidak mau pulang kembali menetap di daerah asalnya karena di daerah asalnya mereka tidak tahu harus memulai kehidupan baru itu dari mana dan sebagai apa. Mereka merasa sudah nyaman hidup di daerah transmigrasi.

Setelah tiga hari tinggal di rumah Pak Luh De, hari Minggu malam kami pamit untuk kembali ke Denpasar. Dari kunjungan singkat ini saya bisa menyaksikan, ternyata keadaan desa transmigran itu tidak jauh berbeda dengan keadaan desa-desa di sekitar tempat tinggal saya. Kalau semula saya membayangkan desa transmigran yang saya kunjungi itu masih berupa daerah hutan. Setelah menyaksikan dengan mata kepala sendiri barulah saya sadar bahwa bayangan saya itu keliru.

Baca Selanjutnya......

MANUSIA BIASA BISA LUPA

Manusia mempunyai kemampuan yang terbatas. Salah satu kemampuan manusia yang terbatas tersebut adalah kemampuan mengingat. Umumnya manusia sulit untuk bisa mengingat secara terus menerus dan sedetilnya semua kejadian atau semua peristiwa yang pernah dialami, dilihat, dirasakan, atau didengar. Kita sering mendengar orang mengatakan, “Aduh, lupa..” ketika ia diingatkan tentang hal-hal yang harus dilakukan, dikerjakan, disampaikan, atau dibicarakan. Atau, kita sendiri pernah kebingungan mencari kunci rumah atau kunci mobil atau kacamata. Padahal beberapa menit yang lalu barang-barang tersebut masih kita pegang tetapi lupa entah dimana kita menaruhnya.

Lupa atau tidak dapat mengingat dengan semestinya merupakan fenomena yang sangat lumrah terjadi pada seseorang. Lupa terhadap hal-hal yang kurang berkesan atau kurang diperhatikan, namun apabila diberi isyarat atau tanda (clue) maka hal tersebut masih dapat diingat kembali meskipun detilnya terlupakan. Lupa yang demikian termasuk lupa normal. Sedangkan lupa abnormal biasanya merupakan gejala demensia (pikun dini), dan mempunyai ciri-ciri derajat lupa sudah keterlaluan terutama hal yang baru terjadi (recent event), dan bila diberi tanda (clue) juga tetap tidak bisa mengingat kembali seolah tidak pernah mengalami kejadian tersebut (http://kipsaint.com/isi/antara-depresi-dan-sifat-lupa.html)

Dengan bisa lupa atau tidak mengingat sesaat tentang suatu hal pernah dialami, dirasakan, atau dilihat, manusia bisa berfikir secara jernih tentang hal-hal lainnya. Juga manusia bisa berkonsentrasi secara penuh terhadap hal-hal yang sedang dikerjakan atau sedang dipikirkan lebih-lebih pada saat menghadapi situasi yang sangat menentukan. Tanpa bisa melupakan sesaat semua kejadian atau peristiwa yang pernah dialami, dirasakan, atau dilihat, manusia tidak akan bisa berfikir jernih. Juga tidak bisa berkonsentrasi secara penuh serta tidak bisa focus pada pekerjaan atau situasi yang sedang dihadapi. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya diri kita apabila kita tidak punya sifat lupa.

Akan tetapi sifat lupa, apalagi bila menjadi seorang pelupa, bisa menjengkelkan juga. Sesuatunya bisa menjadi berantakan hanya karena lupa. Hal-hal yang telah direncanakan dengan matang bisa jadi sia-sia hanya karena ada yang dilupakan. Kepercayaan dari atasan menjadi hilang hanya karena lupa mengerjakan perintah atasan. Peluang emas dari mitra bisnis menjadi hilang hanya karena lupa pada janji-janji yang telah disepakati bersama. Istri atau anak-anak bisa marah-marah karena lupa dijemput. Itu hanya sekedar contoh saja, hal-hal yang bisa terjadi hanya karena lupa.
Untuk menghindari dari kelupaan maka digunakanlah cara-cara tertentu. Bisa berupa catatan, tulisan, kode/tanda, bunyi/suara, atau cara-cara lainnya. Misalnya, agar tidak lupa membeli barang-barang tertentu maka sebelum pergi belanja dibuatkan catatan tentang barang-barang yang akan dibeli. Agar tidak lupa pada janji yang telah disepakati maka dibuatkan jadual kegiatan harian/mingguan. Dan, agar tidak lupa melakukan kegiatan penting pada hari dan jam tertentu kita bisa menggunakan handphone sebagai alat pengingat.

Nah, bisa lupa ternyata tidak sepenuhnya jelek. Juga tidak sepenuhnya baik. Bagi saya, ada manfaatnya juga bisa lupa atau bisa tidak mengingat, asal tidak sampai menjadi pikun. Bagaimana dengan Anda ?

Baca Selanjutnya......

Kamis, 24 Juni 2010

Meniru Orang Yang Dijadikan Model

Pada satu kesempatan, saya pergi ke tukang cuci motor untuk cuci motor sekaligus ganti oli. Sambil menunggu saya duduk di ruang tunggu sambil membaca koran terbitan daerah yang tergeletak di atas meja. Sebenarnya saya malas membaca koran itu. Bukan karena saya tidak suka membaca koran . Juga bukan karena isi beritanya, tetapi dikarenakan koran yang tersedia itu adalah koran yang terbit dua hari sebelumnya. Karena tidak ada bahan bacaan lain dan dari pada bengong saya baca juga koran itu. Dari berita yang dimuat koran itu yang saya baca adalah berita tentang politisi yang akan ikut kompetisi pada pemilu. Dan, para politisi yang yang akan berkompetisi itu ternyata ada politisi yang orang tuanya atau salah satu orang tuanya juga adalah politisi. Jadi si anak menjadi politisi meniru jejak orang tuanya menjadi politisi.

Pada kesempatan lain, saya, isteri, dan anak sedang makan siang. Sudah menjadi kebiasaan kami kalau makan sambil nonton televisi. Kebetulan televisi saya baru kemarin diambil dari bengkel. Jadilah kami makan bersama sambil nonton televisi. Kalau nonton televisi bersama-sama saya bukanlah penentu chanel dan acara apa yang akan ditonton. Termasuk pada siang itu saya hanya ikut-ikutan nonton acara pilihan isteri tercinta. Acara kesukaannya adalah acara tentang dunia selebritis. Dan, siang itu ditayangkan kisah seorang anak yang sedang meniti karir menjadi seorang artis mengikuti jejak orang tuanya yang saat ini adalah seorang artis yang terkenal di negeri ini. Jadi si anak menjadi artis karena orang tuanya juga adalah artis.

Dan pada kesempatan lainnya lagi, saya pergi belanja ke pasar tradisional. Walaupun sekarang sedang tren pasar modern (pasar swalayan) tidak menyurutkan niat saya belanja ke pasar tradisional. Sesampai di pasar saya langsung menuju ke satu los yang menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari. Beberapa pembeli sudah lebih dulu ada disana. Sambil antre saya mengamati si penjual yang tampak masih muda. Umurnya kira-kira 20 tahun. Saya terkesan dengan kecermatan, kesabaran, dan keramahannya melayani setiap pembeli. Ketika hal itu secara bisik-bisik saya sampaikan ke pembeli yang ada di belakang saya pembeli itu juga mempunyai kesan yang sama. Bahkan, pembeli itu menambahkan bahwa si pedagang itu dari masih anak-anak sudah diajak berdagang oleh orang tuanya.

Dari ceritera saya di atas ternyata seseorang dari keluarga politisi akhirnya juga menjadi politisi. Seseorang menjadi artis karena berasal dari keluarga artis. Seseorang menjadi pedagang karena sedari kecil sudah diajak berdagang oleh kedua orang tuanya. Ada juga seseorang menjadi guru karena kedua orang tuanya atau salah satu orang tuanya adalah seorang guru. Lalu, apakah semua itu karena kebetulan ?

Bukan sesuatu yang kebetulan jika seseorang dari keluarga politisi akhirnya juga menjadi seorang politisi. Bukan sesuatu yang kebetulan jika seseorang dari keluarga artis kemudian juga menjadi artis. Bukan sesuatu yang kebetulan jika seseorang dari keluarga pedagang akan menjadi pedagang yang handal. Apa-apa yang dikerjakan oleh seseorang sebenarnya meniru dari orang-orang tertentu yang dijadikan model, sengaja atau tanpa disengaja Dalam proses belajar meniru sering kali terjadi tanpa disadari. Seseorang meniru atau mencontoh lingkungan terdekatnya. Seseorang meniru atau mencontoh orang-orang yang paling berpengaruh terhadap dirinya. Pada ceritera di atas seorang anak sengaja atau tanpa sengaja, tanpa disadari telah meniru atau mencontoh orang-orang yang paling berpengaruh terhadap dirinya yang dijadikan model dan berasal dari lingkungan terdekat, yaitu orang tuanya. Si anak yang bercita-cita menjadi politisi bisa berhasil menjadi politisi karena belajar meniru atau mencontoh orang tuanya yang paling berpengaruh terhadap dirinya yang juga adalah seorang politisi dan memberi dukungan kepada si anak untuk menjadi seorang politisi. Begitu juga halnya dengan si anak yang menjadi artis dan si anak yang menjadi pedagang.

Jadi, apabila lingkungan memberi dukungan dan orang-orang yang berpengaruh terhadap seseorang ternyata sebenarnya “yang diinginkan menjadi” maka besar kemungkinan seseorang akan berhasil menjadi apa yang diinginkan. Tetapi apabila lingkungan tidak begitu memberi dukungan dan orang-orang yang berpengaruh terhadap seseorang ternyata sebenarnya adalah “bukan yang diinginkan menjadi” maka sangat besar kemungkinan seseorang itu akan tersesat.



Baca Selanjutnya......

Jumat, 18 Juni 2010

SEPAK BOLA DAN KOSONG

Piala Dunia 2010 sudah digelar mulai hari Jumat, 11 Juni 2010 yang lalu. Pembukaannya dipusatkan di Stadion Soccer City, Johannesburg, Afrika Selatan. Penyelenggaraan Piala Dunia 2010 yang merupakan kegiatan olahraga di bidang sepak bola diikuti oleh 32 tim dari bebeberapa negara yang terbagi dalam delapan grup.

Bagi penggemar olahraga sepak bola Piala Dunia merupakan kegiatan yang sangat ditunggu-tunggu. Para penggemar sepak bola rela datang ke tempat pertandingan meskipun jarak domisili mereka sangat jauh dan biaya yang dikeluarkan tidak sedikit. Bagi mereka jarak dan biaya tampaknya tidak menjadi persoalan asalkan mereka dapat menyaksikan tim kesayangan mereka berlaga di lapangan. Sedangkan bagi penggemar sepak bola yang tidak bisa datang ke tempat pertandingan cukup puas menyaksikan pertandingan di televisi yang disiarkan secara langsung. Ada yang menonton di televisi yang ada di rumah, ada juga yang bergabung pada “acara nonton bareng Piala Dunia 2010” yang diselenggarakan oleh pihak-pihak tertentu. Mereka rela begadang sampai larut malam menyaksikan tim-tim yang sedang berlaga.

Begitu gemarnya orang-orang nonton permainan sepakbola, lalu apakah hakikatnya yang disajikan oleh sepakbola? Pada sepakbola selain menyajikan keindahan dan kepiawaian para pemain mengunjukkan potensi kreativitas di kaki, juga menyajikan hakikat manusia (baca: pemain) yang teguh, kukuh, mengejar kosong. Bola adalah benda berbentuk bulat. Pada bilangan, nol adalah berbentuk bulat. Nol adalah kosong. Jadi bola pada sepakbola hakikatnya merupakan bulatan kosong.

Para pemain sepakbola mengejar bola yang kosong, lalu mengoper atau mengumpan bola yang kosong kepada teman satu tim yang berada atau berusaha berada di tempat yang strategis yaitu tempat yang kosong. Pemain sepak bola berusaha berkelit dari kawalan pemain lawan untuk bisa menempati tempat yang kosong. Dari tempat yang kosong seorang pemain menggiring bola yang kosong berusaha mencari tempat yang kosong dan berupaya sekuat tenaga menembus kosong. Puncaknya, adalah sang pemain berkonsentrasi penuh memasukkan bola yang kosong ke bagian gawang yang kosong pula. Keberhasilan menyarangkan “kosong ke kosong” itulah yang dimaknai sebagai kemenangan nan cemerlang. Dan, apabila hal itu terjadi maka “meledaklah” sorak sorai kegembiraan dari tim yang mampu menembuskan bola kosong ke gawang yang kosong maupun dari penonton.

Begitulah hakikat yang disajikan oleh sepak bola. Keindahan, kepiawaian, dan keteguhan untuk mencari, mengejar, membidik, dan menembus kosong. Keindahan, kepiawaian dan keteguhan mencari, mengejar, membidik, dan menembus kosong itulah, bagi saya, memberikan ketertarikan dan kesenangan nonton permainan sepakbola.


Baca Selanjutnya......

Sabtu, 12 Juni 2010

Makna Tebu Pada Saat Mejauman

Apabila Anda pernah ikut mengantar pengantin ke rumah pengantin perempuan saat mejauman pada perkawinan adat Bali, mungkin Anda akan melihat pohon tebu yang diikatkan pada kendaraan yang mengangkut kedua mempelai. Lalu apa makna pohon tebu tersebut ?


Setelah upacara awiwaha samkara (ngayab banten pekeraban) selesai umumnya akan dilanjutkan dengan upacara mejauman. Pada upacara mejauman pihak keluarga pengantin laki-laki mengantar kedua pengantin berkunjung ke rumah pengantin perempuan. Keluarga pihak pengantin laki-laki membawa bebanten (sesajen) untuk dipersembahkan ke hadapan roh leluhur pihak pengantin perempuan yang berstana di sanggah kemulannya (tempat pemujaan keluarga). Perlengkapan berupa bebanten (sesajen) itu disebut bebantenan jauman, yang berfungsi melaporkan kepada roh leluhur pihak pengantin perempuan bahwa sang pengantin perempuan telah pindah tempat tinggal dari keluarga pengantin perempuan ke keluarga pengantin pria.

Apabila rumah tempat tinggal pengantin perempuan cukup jauh dari rumah tempat tinggal pengantin laki-laki, saat mejauman biasanya keluarga pihak laki-laki menyiapkan kendaraan untuk mengangkut kedua pengantin, anggota keluarga maupun undangan yang akan ikut mengantar ke rumah pengantin wanita. Pada kendaraan yang mengangkut kedua mempelai diikatkan pohon tebu. Bisa jadi diantara pembaca, termasuk saya, ada yang bertanya-tanya apa makna kiasan atau simbul pohon tebu tersebut.

I Gusti Rai Partia, B.A. dalam bukunya Berbuat Benar Belum Tentu Baik menjelaskan makna pohon tebu dianalisis berdasarkan sifat-sifat yang ada pada pohon tebu. Sifat-sifat yang baik pada pohon tebu tersebut yang hendaknya dapat ditiru oleh pengantin baru yaitu :

Pertama, sifat pohon tebu itu adalah manis dari akar sampai dengan pucuknya. Walaupun sampai ke pucuk manisnya berkurang yang penting rasa manis tetap ada. Demikianlah hendaknya kedua pengantin itu hidup dalam suasana bermanis-manis (bermesra-mesraan) dari awal sampai akhir.

Kedua, pengantin laki-laki hendaknya jangan bersifat sebagai orang yang makan tebu, yaitu habis manis sepah dibuang.

Ketiga, tebu itu dapat hidup dalam segala iklim dari pantai sampai ke pegunungan. Maksudnya agar pengantin itu hidup rukun dalam suasana suka dan duka.

Keempat, sifat pohon tebu itu makin diperas makin bertambah manisnya. Maksudnya agar kebencian dibalas dengan kasih sayang dalam kehidupan bersuami istri. Kalau sang suami memarahi sang istri maka sang istri membalas dengan nada yang mampu melenyapkan kemarahan sang suami. Dengan demikian hidup rukun suami istri bisa tercapai.







Baca Selanjutnya......