Mapandes/matatah/masangih (potong gigi) ini
dilaksanakan oleh seorang mangku sangging
yang memahat atau mengasah dengan menggunakan kikir sehingga menjadi rata
dan rapi enam (6) buah gigi, yaitu empat (4) buah gigi seri dan dua (2) buah
gigi taring bagian atas.
Upacara ini diyakini bermakna agar si anak (orang) yang diupacarai dapat terlepas dari belenggu kegelapan karena pengaruh Sad Ripu dalam diri manusia. Sad Ripu
adalah enam jenis musuh yang timbul dari sifat-sifat atau perbuatan yang tidak
baik dalam diri manusia, yaitu : Kama
(sifat penuh nafsu indriya), Lobha
(sifat loba atau serakah), Krodha
(sifat kejam dan pemarah), Mada
(sifat mabuk dan kegila-gilaan), Moha
(sifat bingung dan angkuh), dan Matsarya
(sifat dengki dan irihati).
Jadi, upacara mapandes/matatah/masangih
(potong gigi) adalah upacara yang bertujuan untuk mengendalikan pengaruh sad ripu dalam diri si anak. Juga, nantinya untuk dapat bertemu kembali
dengan bapak dan ibu yang telah berujud suci, dan menghindari hukuman di dalam
neraka nanti yang dijatuhkan oleh Batara Yamadipati berupa menggigit pangkal bambu
petung. Tujuan lain adalah untuk memenuhi kewajiban orang tua kepada
anak-anaknya agar menjadi manusia yang sejati.