Setelah proses pembersihan diri berakhir dan telah berganti pakaian bagi pengunjung yang mau bisa melanjutkan bersembahyang di Pura Tirta Sudamala yang berlokasi disamping kanan lokasi pancuran
Tanggal 26 Januari 2012 yang lalu adalah hari Kamis Wage wuku Sungsang bertepatan dengan peringatan hari kelahiran pertama dari cucu pertama saya. Peringatan hari kelahiran cucu saya disebut dengan weton atau oton atau otonan. Dengan demikian cucu saya saat itu sudah berumur satu weton/oton.
Kata weton adalah berasal dari kata wetuan menjadi weton menjadi oton/otonan. Kata wetu berarti keluar atau lahir. Jadi upacara weton atau oton/otonan ialah peringatan hari kelahiran tepat pada pertemuan hari Sapta Wara, Panca Wara, dan Pawukon yang sama. Pertemuan hari Sapta Wara, Panca Wara, dan Pawukon yang sama akan datang setiap 6 (enam) bulan Bali/Jawa atau setiap 210 hari sekali.
Misalnya, cucu saya yang lahir pada hari Kamis Wage wuku Sungsang tanggal 30 Juni 2011 maka weton atau oton/otonannya akan diperingati pada hari yang sama persis seperti itu yang datangnya setiap 6 (enam) bulan Bali/Jawa atau 210 hari sekali dengan mengabaikan tanggal dan bulan kelahiran menurut perhitungan tahun Masehi. Berbeda halnya dengan peringatan hari ulang tahun yang datang setahun sekali bertepatan dengan tanggal dan bulan kelahiran menurut perhitungan tahun Masehi dengan mengabaikan hari kelahiran.
Bagi umat Hindu Bali hari kelahiran adalah salah satu hari yang tidak dilupakan. Oleh karenanya hari kelahiran yang disebut weton/oton/otonan diperingati atau dirayakan secara keagamaan dengan upakara yadnya. Apabila weton/oton/otonan seseorang dilaksanakan dengan upakara Yadnya yang kecil biasanya dipimpin oleh orang yang dituakan. Apabila upakaranya lebih besar dipimpin oleh Pemangku, dan apabila upakaranya tergolong utama akan dipimpin oleh Sulinggih (Pandita).
Ada hal yang unik pada saat pelaksanaan weton/oton/otonan. Selain mengantarkan doa-doa untuk orang yang punya weton/oton/otonan juga dilakukan pemberian simbol, yaitu simbol benang yang dilingkarkan di pergelangan tangan orang yang punya weton/oton/otonan. Makna simbolis dari gelang benang yang dilingkarkan di pergelangan tangan orang yang punya weton/oton/otonan tersebut adalah :
a. Benang memiliki konotasi “beneng” yang berarti lurus. Benang adalah salah satu alat yang sering dipakai membuat lurus sesuatu yang diukur. Jadi benang bermakna agar hati si pemakai (yang punya weton/oton/otonan)selalu ada di jalan yang lurus atau benar.
b. Benang memiliki sifat lentur dan tidak mudah putus. Maknanya agar orang yang punya weton/oton/otonan mempunyai kelenturan hati sehingga tidak mudah patah semangat dalam mengarungi kehidupan.
Catatan :
Sapta Wara : perhitungan hari dalam seminggu yaitu: Minggu/Redite, Senin/Soma, Selasa/Anggara, Rabu/Buda, Kamis/Wraspati,Jumat/Sukra, Sabtu/Saniscara.
Panca Wara : hari pasaran ada 5 yaitu : Umanis, Paing, Pon, Wage, Kliwon
Pawukon : berjumlah 30 wuku yang masing-masing berumur 7 hari mulai dari hari Minggu, yaitu : Sinta, Landep, Ukir, Kulantir, Tulu, Gumbreg, Wariga, Warigadian, Julungwangi, Sungsang, Dungulan, Kuningan, Langkir, Medangsia, Pujut, Pahang, Krulut, Merakih, Tambir, Medangkungan, Matal, Uye, Menail, Prangbakat, Bala, Ugu, Wayang, Kelawu, Dukut, Watugunung
Mejauman adalah nama suatu upacara yang merupakan bagian dari rangkaian upacara perkawinan adat Bali yang umumnya dilaksanakan setelah upacara pokok pengesahan perkawinan selesai. Mejauman merupakan upacara kunjungan resmi religius kedua mempelai dari rumah keluarga pihak laki-laki (purusa) ke rumah keluarga pihak perempuan (pradana). Nama lain dari mejauman adalah : ngaba jaja, ngaba ketipat bantal, atau ngunya.
Walaupun tidak akan merubah keabsahan perkawinan yang telah dilaksanakan mejauman tetap dipandang sebagai satu acara yang penting dan penuh arti. Oleh karena itu keluarga pihak laki-laki sangat mengusahakan agar upacara perkawinan anak laki-lakinya dapat dilengkapi dengan upacara mejauman. Dengan melaksanakan upacara mejauman nilai perkawinan secara keagamaan dan sosial dipandang akan menjadi lebih berbobot terutama di bidang pertalian kekerabatan antara keluarga asal pihak laki-laki dengan keluarga asal pihak perempuan. Disamping juga lebih memberi rasa tenang bagi kedua belah pihak.
Makna religius dari mejauman tampak dari kunjungan pihak keluarga laki-laki ke keluarga pihak perempuan yang dilengkapi dengan berbagai jenis sesajen yang akan dihaturkan di Pemerajan (tempat pemujaan keluarga) keluarga pihak perempuan. Sesajen yang dihaturkan di Pemerajan dengan diantar oleh rohaniawan dimaksudkan memohon pamitan mempelai perempuan kepada Bhatara/Bhatari leluhurnya, serta memohon perkenan dan restu para Bhatara/Bhatari leluhur, bahwa sejak saat itu si perempuan tidak lagi merupakan warga dalam rumah asalnya melainkan sudah menjadi warga dalam rumah keluarga suaminya. Begitu juga anak-anak yang akan dilahirkan nantinya bukanlah pelanjut warga rumah asalnya melainkan merupakan generasi penerus dalam keluarga suaminya.
Dalam aspek sosial mejauman merupakan permohonan pamitan mempelai perempuan kepada orang tua atau keluarganya. Dalam hal ini akan terdapat pemutusan ikatan antara si perempuan dengan orang tua atau keluarganya. Pemutusan ikatan dimaksud bukanlah pemutusan ikatan kasih sayang antara orang tua dengan anak melainkan pada pemutusan ikatan dalam segi perlindungan hukum orang tua (guru rupaka), perdata, pewarisan.
Bagi mempelai laki-laki sebagai suami baru mejauman merupakan saat baginya untuk memohon restu mertua bagi keselamatan mereka, serta mulai menerima tanggung jawab mengayomi isteri. Juga merupakan saat yang tepat bagi si laki-laki memperkenalkan diri kepada prajuru (aparatur) desa/banjar, mengikat tali kekerabatan baru dengan segenap keluarga si isteri.
Begitulah makna pokok dari upacara mejauman pada perkawinan adat Bali yang ada baiknya dipahami oleh mereka yang melangsungkan perkawinan.
Setelah selesai acara peminangan puteri pertama saya, saya menyampaikan pesan kepada salon besan bahwa saya dan isteri tidak akan datang ke rumahnya pada saat upacara perkawinan anak-anak nanti. Ketidakhadiran kami itu saya sampaikan di hadapan anak dan calon menantu. Saat itu calon menantu saya bertanya, “Mengapa Bapak tidak tidak bisa hadir ?” Saya tidak menjawab. Anak saya yang memberi penjelasan bahwa ketidakhadiran saya dan isteri pada saat upacara perkawinan mereka karena memang adatnya dari dulu sudah begitu.
Mendengar jawaban yang sederhana itu saya menangkap kesan ada rasa ketidakmengertian di wajah calon menantu saya. Mungkin ia belum bisa menerima alasan yang disampaikan anak saya itu. Mungkin pula ia mempunyai pandangan, bahwa di saat seorang anak mengalami satu tonggak sejarah dalam hidupnya yaitu upacara perkawinan kehadiran mertua sangat diharapkan. Bukankah umumnya kehadiran dan terutama restu orang tua kedua belah pihak merupakan satu ciri dan satu inti dari upacara perkawinan ? Restu orang tua akan memberi kekuatan dan ketenangan batin bagi si pengantin dalam memasuki hidup baru
Saya memahami perasaan calon menantu saya. Di Bali, orang-orang mempunyai pandangan bahwa memang dipantangkan kehadiran orang tua mempelai wanita di saat upacara perkawinan berlangsung di rumah pengantin pria. Adanya pantangan inilah yang belum diketahui oleh calon menantu saya, serta apa motif pantangan hadir di rumah menantu bagi orang tua mempelai wanita di saat upacara perkawinan anaknya.
Ketidaktahuan tentang pantangan dan motif pantangan seperti tersebut di atas tidak hanya dialami oleh calon menantu saya saja. Bisa jadi anak-anak muda yang lain ada juga yang belum mengetahuinya. Bahkan ada orang tua yang secara jujur mengatakan bahwa ia tidak mengetahui adanya pantangan hadir di rumah menantu saat upacara perkawinan berlangsung. Ini menandakan landasan motivasi tentang pantangan tersebut masih perlu dimasyarakatkan agar anak-anak muda yang akan melangsungkan perkawinan mempunyai pemahaman dan tidak mempunyai pandangan yang negative atas ketidakhadiran mertua pada saat upacara perkawinan berlangsung. Juga para orang tua mempelai wanita tidak “salah melangkah” yang dapat berseberangan dengan opini masyarakat yang umumnya masih dipertahankan.
Adapun landasan pantangan kehadiran orang tua mempelai wanita di saat upacara perkawinan berlangsung di rumah pengantin pria adalah landasan penetapan tata krama karena perbedaan derajat atau kedudukan antar mertua dan menantu dalam pertalian kekeluargaan yang baru. Kedudukan mertua tentu saja sejajar dengan orang tua. Sedangkan menantu adalah berderajat atau berkedudukan bawahan dari mertua dan orang tua.
Bagaimanakah sepantasnya cara berhubungan di saat awal antara menantu dengan mertua ? Inilah yang melahirkan pantangan tersebut. Jelasnya, pihak yang berkedudukan lebih rendahlah yang harus datang menghadap ke tempat pihak lain yang lebih tinggi. Si menantulah yang harus datang menghadap mertua. Waktu untuk itu memang disediakan, biasanya pada saat “mejauman”. Bila dilakukan sebaliknya maka akan “tulah/kualat” pengantin baru tersebut. Tindakan sumbang, apabila mertua mengunjungi atau mengiringkan menantu terlebih dahulu. Tindakan ini dinamakan “nyulubin pikang menantu” (arti bebasnya : menyeruak di bawah selangkangan menantu). Opini ini di masyarakat umumnya masih dipertahankan.
Upacara puncak perkawinan dilakukan di rumah pengantin pria. Orang tua pengantin pria selaku penyelenggara utama. Kedudukannya selaku penyelenggara utama telah dengan sendirinya merupakan perwujudan restunya terhadap perkawinan anaknya. Sedangkan mertua, walaupun pantang hadir, memberikan doa restu dari rumahnya supaya kedua mempelai tidak tulah/kualat.
Setelah puncak upacara perkawinan selesai, kedua mempelai dengan membawa sesajen (biasanya sesajen/upakara ketipat bantal atau jauman ) diantar oleh keluarga pihak pria datang ke rumah asal mempelai wanita untuk menghadap pertama kepada mertua serta memohon restunya. Termasuk bersembahyang kepada leluhur di Merajan mempelai wanita. Restu yang diberikan oleh mertua dapat diwujudkan pula dengan dibuatkan sesajen yang di”ayab” oleh kedua mempelai, diberikan seperangkat pakaian pesalin, makan saling suap, dan lain-lain menurut adat setempat.
Kesimpulannya, dalam perkawinan adat Bali soal restu orang tua merupakan unsur yang penting. Karena itu saat dan tata cara pemberiannya diatur menurut tata krama yang semestinya dengan tetap mempedomani mana yang “sor” (kedudukan lebih rendah) dan mana yang “singgih” (kedudukan lebih tinggi). Pihak yang kedudukannya lebih rendahlah (menantu) yang datang menghadap memohon restu kepada yang kedudukannya lebih tinggi (mertua), bukan sebaliknya.
Sumber : I Gusti Ketut Kaler, 1994, Butir-Butir Tercecer Tentang Adat Bali 1, Denpasar: CV. Kayumas Agung
Bagi masyarakat Bali, kata banjar tentu sudah tidak asing lagi. Mereka yang bertempat tinggal (menetap) di suatu wilayah di Bali akan diikat dalam satu lembaga sosial yang dinamakan banjar. Banjar merupakan lembaga sosial atas dasar ikatan wilayah tempat tinggal.
Banjar, adalah merupakan pusat komunitas sekelompok masyarakat dengan subsistem dari sebuah desa yang memiliki kesatuan sosial adat baik dalam suasana duka maupun dalam suasana suka. Sebagai bentuk komunitas kecil, maka banjar di Bali memiliki peranan yang sangat penting sebagai lembaga sosial tradisional maupun sebagai wadah kegiatan upacara adat maupun upacara agama. Disamping itu banjar juga sebagai wadah pelaksanaan dari berbagai kegiatan baik dalam bidang ekonomi, masyarakat, maupun berbagai kegiatan pemerintah, seperti pendidikan, kesehatan, Keluarga Berencana, dan lain-lain.
Sesuai dengan fokus fungsinya, banjar dibedakan atas Banjar Adat dan Banjar Dinas. Banjar Adat dengan fokus fungsinya dalam bidang adat dan agama, dan secara struktural menjadi bagian dari Desa Adat. Banjar Adat dipimpin oleh Kelian Banjar Adat. Sedangkan Banjar Dinas dengan fokus fungsinya dalam bidang administrasi dan secara struktural menjadi bagian Desa Dinas. Banjar Dinas dipimpin oleh Kepala Dusun.
Sebagai lembaga sosial, banjar mempunyai atribut. Atribut diartikan sebagai lambang atau simbol sebagai ciri khas suatu banjar. Atribut/lambang/simbol sebagai ciri khas suatu banjar, diantaranya :
a. Bale Banjar
Bale (bahasa Bali), juga berarti “balai” (bahasa Indonesia) yang artinya gedung, rumah (umum), atau bangunan terbuka. Bale banjar mengandung arti suatu bangunan terbuka yang digunakan untuk kepentingan bersama warganya. Bale banjar juga merupakan balai atau bangunan tempat memusyawarahkan suatu masalah yang dihadapi oleh krama (masyarakat) banjar. Balai banjar juga dapat dipergunakan untuk melakukan suatu aktivitas oleh krama banjar, seperti kegiatan sosial. Umumnya lokasi bale banjar terletak pada lokasi yang mudah dicapai oleh krama (masyarakat) banjar.
b. Bale Kulkul dengan Kulkul
Bale (balai) Kulkul dengan kulkulnya (kentongan) merupakan salah satu atribut/lambang/simbol lembaga banjar. Kulkul (kentongan) merupakan alat komunikasi tradisional yang masih dilestarikan di daerah Bali. Bale (balai) kulkul dengan kulkul (kentongan) diadakan digunakan untuk mengumpulkan warga banjar pada waktu akan sangkep atau rapat, ada kematian, bergotong royong, ada bencana, atau ada kegiatan lain, dengan cara memukul atau membunyikan kulkul (kentongan). Tidak sembarang orang dibolehkan memukul atau membunyikan kulkul (kentongan) kecuali kesinoman atau juru arah (orang yang bertugas menghubungi warga banjar atas perintah Kelian Banjar) atas ijin Kelian Banjar.
c. Pura Banjar
Bertempat di arah timur atau utara dari areal banjar dibangun bangunan pelinggih (bangunan suci) dari Pura Banjar. Pura Banjar merupakan linggih (stana)Ida Bhagawan Panyarikan atau Ida Ratu Gede Panyarikan. Pura Banjar merupakan tempat krama banjar untuk melaksanakan aktivitas keagamaan dalam rangka memuja dan berbakti ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa.
Setiap aktivitas yang dilakukan krama banjar di balai banjar terlebih dahulu dilakukan “matur piuning” (memberitahukan/mempermaklumkan) ke hadapan Ida Ratu Gede Panyarikan memohon agar Beliau memberikan tuntunan serta rahmat atas kegiatan yang dilaksanakan.
Sumber : Berbagai sumber
Apabila Anda pernah ikut mengantar pengantin ke rumah pengantin perempuan saat mejauman pada perkawinan adat Bali, mungkin Anda akan melihat pohon tebu yang diikatkan pada kendaraan yang mengangkut kedua mempelai. Lalu apa makna pohon tebu tersebut ?
Setelah upacara awiwaha samkara (ngayab banten pekeraban) selesai umumnya akan dilanjutkan dengan upacara mejauman. Pada upacara mejauman pihak keluarga pengantin laki-laki mengantar kedua pengantin berkunjung ke rumah pengantin perempuan. Keluarga pihak pengantin laki-laki membawa bebanten (sesajen) untuk dipersembahkan ke hadapan roh leluhur pihak pengantin perempuan yang berstana di sanggah kemulannya (tempat pemujaan keluarga). Perlengkapan berupa bebanten (sesajen) itu disebut bebantenan jauman, yang berfungsi melaporkan kepada roh leluhur pihak pengantin perempuan bahwa sang pengantin perempuan telah pindah tempat tinggal dari keluarga pengantin perempuan ke keluarga pengantin pria.
Apabila rumah tempat tinggal pengantin perempuan cukup jauh dari rumah tempat tinggal pengantin laki-laki, saat mejauman biasanya keluarga pihak laki-laki menyiapkan kendaraan untuk mengangkut kedua pengantin, anggota keluarga maupun undangan yang akan ikut mengantar ke rumah pengantin wanita. Pada kendaraan yang mengangkut kedua mempelai diikatkan pohon tebu. Bisa jadi diantara pembaca, termasuk saya, ada yang bertanya-tanya apa makna kiasan atau simbul pohon tebu tersebut.
I Gusti Rai Partia, B.A. dalam bukunya Berbuat Benar Belum Tentu Baik menjelaskan makna pohon tebu dianalisis berdasarkan sifat-sifat yang ada pada pohon tebu. Sifat-sifat yang baik pada pohon tebu tersebut yang hendaknya dapat ditiru oleh pengantin baru yaitu :
Pertama, sifat pohon tebu itu adalah manis dari akar sampai dengan pucuknya. Walaupun sampai ke pucuk manisnya berkurang yang penting rasa manis tetap ada. Demikianlah hendaknya kedua pengantin itu hidup dalam suasana bermanis-manis (bermesra-mesraan) dari awal sampai akhir.
Kedua, pengantin laki-laki hendaknya jangan bersifat sebagai orang yang makan tebu, yaitu habis manis sepah dibuang.
Ketiga, tebu itu dapat hidup dalam segala iklim dari pantai sampai ke pegunungan. Maksudnya agar pengantin itu hidup rukun dalam suasana suka dan duka.
Keempat, sifat pohon tebu itu makin diperas makin bertambah manisnya. Maksudnya agar kebencian dibalas dengan kasih sayang dalam kehidupan bersuami istri. Kalau sang suami memarahi sang istri maka sang istri membalas dengan nada yang mampu melenyapkan kemarahan sang suami. Dengan demikian hidup rukun suami istri bisa tercapai.
1. PENGANTAR
Setiap orang yang akan melaksanakan perkawinan haruslah menyadari arti perkawinan itu sendiri. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah tangga) yang berbahagia dan kekal berdasarkan ke Tuhanan Yang Maha Esa (UU. No. 1 Tahun 1974).
Ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita itu sepatutnya mendapat restu atau ijin dari kedua orang tua mereka. Hal ini untuk menghindari terjadinya kerenggangan setelah menjalani hidup berumah tangga. Oleh karena itu pada perkawinan adat Bali orang tua atau keluarga ke dua belah pihak ikut berperanan. Keluarga pihak pria (purusa) meminang anak wanita (pradhana) untuk diperisteri oleh putra keluarga pria (purusa).
Karena ada kegiatan meminang/nyuwaka/memadik, mau tidak mau akan ada pembicaraan diantara keluarga pihak pria (purusa) dengan keluarga pihak wanita (pradhana). Kendala yang sering dihadapi adalah bahwa ada anggota keluarga pihak pria (purusa) yang menghindar menjadi pembicara/juru bicara pada saat meminang/nyuwaka/memadik, kecuali dalam keadaan terpaksa. Mereka lebih suka memilih menjadi peserta atau pendengar yang baik karena belum atau tidak siap sebagai pembicara/juru bicara. Hal ini dikarenakan diantaranya : ada yang takut berbicara di hadapan orang banyak, kurang memahami apa yang harus disampaikan, atau kurang menguasai bertutur kata atau tata krama berbahasa khususnya berbahasa Bali halus.
Untuk mengatasi kendala tersebut saya rangkumkan contoh Percakapan Tentang Perkawinan Adat Bali. Materi pada contoh percakapan ini adalah percakapan tentang perkawinan dengan cara memadik. Dan, materi contoh percakapan ini dikhususkan untuk pembaca yang belum berpengalaman atau pembaca yang ingin menjadi pembicara/juru bicara pada perkawinan adat Bali. Percakapan ini hanya memuat pokok-pokoknya saja. Pengembangan lebih lanjut tergantung kepada kepandaian si juru bicara, dresta atau tata cara setempat, serta memperhatikan situasi dan kondisi setempat.
Saya menyadari bahwa, susunan materi pada contoh percakapan ini masih sangat kurang. Sumbangan pemikiran dari pembaca yang sudah berpengalaman akan sangat berguna untuk menyempurnakan materi contoh Percakapan Tentang Perkawinan Adat Bali agar bisa dipakai pedoman oleh generasi muda yang ingin belajar menjadi pembicara/juru bicara pada perkawinan adat Bali.
2. TAHAP PERSIAPAN
Setelah orang tua si pria (purusa) menerima pemberitahuan dari anak prianya bahwa ia akan mengawini seorang wanita dan orang tua si pria menyetujui, maka orang tua si pria atau orang yang ditunjuk dapat menanyakan hari baik (dewasa ayu) kepada orang yang memahami hari-hari baik (padewasan). Selanjutnya orang tua pihak pria/orang yang ditunjuk mendatangi rumah orang tua pihak wanita. Maksud kedatangannya adalah akan meminang anak wanita pihak keluarga wanita untuk dikawinkan dengan anak pria dari keluarga pihak pria.
Setelah mendengar maksud kedatangan orang tua/orang yang ditunjuk pihak keluarga pria, orang tua pihak wanita (walau menerima pinangan tersebut) biasanya meminta waktu untuk membicarakan lagi dengan pihak keluarganya yang lain.
Orang tua pihak pria/orang yang ditunjuk pun kemudian mengundang keluarga besarnya untuk menyampaikan rencana perkawinan anaknya, hasil pembicaraan dengan pihak orang tua wanita, dan hari baik yang telah ditentukan. Dibicarakan juga hari apa dan jam berapa akan meminang/nyuwaka/memadik ke rumah orang tua pihak wanita, dan menunjuk siapa-siapa nanti yang menjadi pembicara/juru bicara.
Keluarga pihak pria wajib memberitahukan hari dan jam kedatangan meminang/nyuwaka/memadik kepada orang tua pihak wanita setidak-tidaknya tiga atau dua hari sebelumnya.
3. MEMINANG/NYUWAKA/MEMADIK
Sebelum sampai pada pokok pembicaraan pada saat Meminang/Nyuwaka/Memadik, ada baiknya orang yang ditunjuk sebagai juru bicara pihak keluarga laki-laki/purusa mengetahui: lawan bicara, permasalahan, dan sasaran yang ingin dicapai.
Lawan bicara : keluarga pihak perempuan/pradana. Dapatkan informasi tentang kedudukan sosial di masyarakat pihak keluarga perempuan/pradana.
Permasalahan : hubungan cinta antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan yang akan dibicarakan untuk dipinang.
Sasaran ; bagaimana caranya agar orang tua/keluarga pihak perempuan merestui/mengijinkan anak perempuannya dikawini oleh anak laki-laki dari pihak keluarga laki-laki sehingga keduanya bisa menjadi suami isteri.
Isi Pembicaraan
Setelah menghaturkan sesajen “canang pengerawos” pembicaraan sudah bisa dimulai. Inisiatif memulai pembicaraan (pemahbah lan pangaksama) dapat dilakukan oleh keluarga pihak perempuan/keswakang/kapadik.
Juru Bicara Keluarga Perempuan
“Inggih nawegang titiang, menawi wenten malih sane patut pacang jantos? Yening nenten wenten bebawosan jagi kawitang titiang. (Bila tidak ada yang ditunggu lagi pembicaraan bisa dilanjutkan)
“Inggih penglingsir sane wangiang titiang, titiang saking keluarga iriki nunas mangda ledang ugi ngampurayang menawi wenten kirang langkung antuk titiang nyanggra pengerawuhe kadi mangkin. Taler antuk genah melinggih wyakti kadi kosekan pisan, nenten wenten genah melinggih”
“Sadurung ngelantur ring unteng bebawosan, lugrayang titiang ngaturang pangastungkara, nunas ica ring Ida Hyang Parama Kawi dumogi Ida asung wara nugraha ngicenin kerahayuan sareng sami. Om Swastyastu”.
“Inggih selantur ipun galahe mangkin pacang katur ring penglingsir saking ………(daerah asal keluarga laki-laki), napi menawi wenten sane jagi bawosang. Inggih, durusang”.
Juru Bicara Pihak Laki-Laki
(Kalau tidak ada pemahbah lan pangaksama dari pihak keluarga perempuan, dari pihak keluarga laki-laki dapat mengambil inisiatif memulai pembicaraan dengan : “Inggih, nawegang titiang, menawi wenten malih sane patut pacang jantos ? Yening nenten wenten titiang mapisarat pacang ngawit matur).
“Inggih nawegang titiang mantuka ring Pengelingsir saha semeton sinamian, nunas lugra, riantuk titiang prasangga purun ngewentenang atur. Pinih riin titiang ngaturang suksma antuk ledang ugi Pengelingsir sareng sami tangkilin titiang. Taler titiang nunas gung rena sinampura sekirang langkung atur titiang. Inggih, sedurung titiang mahbah indik tetujon pengerawuh titiang mangkin lugrayang titiang ngaturang pangastungkara, Om Swastyastu.
“Pengelingsir saha semeton sinamian, indik tetujon titiang rawuh sekadi mangkin boya sewos ngetut pidabdab anak alit titiang sane mewasta …………… mantuka ring anak alit isteri pengelingsir iriki, sane mewasta …………….
Anak alit titiang sampun mepitau ring titiang, ipun, anak alit titiang, sareng anak alit isteri iriki kocap sampun pada tresna. Anak alit titiang kocap tresna ring anak alit isteri iriki, anak alit isteri iriki kocap tresna ring anak alit titiang. Wentene tresna ketresnain punika anak alit titiang memanah pacang nincapang ke grehasta asrama. Punika mawinan titiang nangkilin pengelingsir iriki mapisarat nunas pikayun pengelingsire iriki ledang ngicenin panugrahan utawi pamargi sane antar mangdane anake alit makekalih praside matemu alaki rabi.
Inggih, titiang ngelungsur pikayunan pengelingsir mangda ledang ugi nagingin pinunas titiang matemuang anake alit makekalih.
Pengelingsir sane wangiang titiang, asapunika sane presida katur antuk titiang. Galah selantur ipun katur ring pengenter bebawosan”.
Pembawa acara/Pengenter bebawosan kemudian memberi waktu kepada juru bicara pihak perempuan untuk memberi tanggapan atas pembicaraan pihak keluarga laki-laki.
Juru Bicara Pihak Perempuan
“Inggih, pengelingsir sane wangiang titiang. Pangandikan pengelingsir wawu sampun kemanah antuk titiang. Kewiaktiane titiang durung pisan pratiyaksa ring perindikan anake alit. Titiang merasa nenten patut pacang nyogok utawi ngedetang kapitresnan anake alit. Sane mangkin titiang nunas galah abosbos. Titiang jagi netes ipun mangda iriki ring ajeng kesaksinin sareng sami".
Panggillah anak gadis yang dimaksud agar ikut bergabung bersama di tempat pembicaraan sehingga bisa disaksikan oleh orang-orang yang hadir, lalu tanyakan sebagai berikut :
“Ih, cening ne ada pengelingsir uli ………… mapikarsa lakar ngidih anake buka cening lakar petemuanga ajak anak alit idane ane madan ……………. apange presida cening ajak dadua metemu alaki rabi. Aji/Bapa tonden bani ngisinin utawi tusing ngisinin pikarsan pengeligsir uli ……. setonden Aji/Bapa netes anake buka cening. Nah, jani edengang isin keneh ceninge ane sujati. Yening cening tresna tur ada keneh cening lakar nganten dini orahin. Yening cening tusing tresna tur tusing ada keneh cening lakar nganten dini orahin di ajeng pengelingsire ajak mekejang. Pengidih Aji/Bapa, eda pesan cening ngapus. Cening sing tresna ngorahin tresna, keto masih cening tresna ngorahin tusing tresna. Yening cening ngapus sing ja cening ngapus ragan ceninge dogen, cening lakar ngapus pengelingsire ajak makejang ane ada di arep ceninge. Ane jani Aji/Bapa metakon teken ragan ceninge :
Kapertama : ada keneh cening lakar nganten ?
Kedua : yen ada keneh ceninge lakar nganten, apa ulian cening tresna apa ulian kepaksa ?
Setelah mendapat jawaban dari si gadis dan jawabannya “ya” dan “ulian tresna” maka pertanyaan dapat diteruskan ke anak pihak laki-laki, apakah betul yang dipinang adalah anak gadisnya dan apakah betul ia mencintai anak gadisnya. Apabila jawabannya “ya” maka jawaban atas permintaan juru bicara pihak laki-laki dapat disimpulkan.
“Inggih, pengelingsir sane wangiang titiang iwawu sami sampun miarsayang pesaut anake alit, wantah jakti pada tresna asih maka kalih tur sampun kebuktiang iriki sareng sami ring ajeng. Titiang ngaturang utawi nagingin sekadi pikarsan pengelingsire pacang matemuang anake alit maka kalih”
Juru Bicara Pihak Laki-Laki
“Inggih, nawegang titiang matur suksma pisan riantukan sampun kedagingin pinunas titiang mantuka ring anake alit iriki. Sane mangkin yening kepatutang saha kelugra titiang pacang ngelanturang matur indik pengambilan anake alit saha pidabdab titiang pacang ngelaksanayang pekala-kalaan miwah widhi widana”.
“Pengambilan anake alit pacang margiang titiang ring rahina ……… Sawatara dauh/jam …….. anake alit pacang ajak titiang ke ……. Upakara awiwaha samkara (ngayab banten pekeraban) manut pangerencana pacang kemargiang nemonin rahina …… kirang langkung dauh/jam …….. Sesampunan wusan awiwaha samkara, sawatara dauh/jam ….. titiang malih pacang nangkilin pengelingsire iriki. Taler titiang pacang muat ilen-ilen upakara merupa “ketipat bantal” maka serana mepamit anake alit. Upakara punika wastanin titiang “jauman”. Inggih, asapunika paweweh sane prasida katur antuk titiang”.
Setelah juru bicara pihak laki-laki selesai berbicara, pembawa acara akan mempersilahkan juru bicara pihak perempuan memberi tanggapan.
Apabila tidak ada halangan, biasanya pihak keluarga perempuan mempersilahkan melanjutkan apa yang telah direncanakan. Dan, apabila pembicaraan berjalan lancar, semua dapat diterima dengan baik, maka isi pembicaraan sudah dianggap selesai.
Penutup Pembicaraan
Karena pembicaraan sudah selesai, pembawa acara dapat menutup pembicaraan diantara kedua belah pihak.
“Inggih, pengelingsir sane wangiang titiang riantukan bebawosane sampun presida puput, iwawu titiang sane ngungkap bebawosane sane mangkin titiang sane nyineb antuk nguncarang paramasanti. Om, Shanti. Shanti, Shanti, Om.
4. MEJAUMAN ATAU MAKTA KETIPAT BANTAL
Mejauman atau makta ketipat bantal merupakan rangkaian dari upacara perkawinan. Mejauman atau makta ketipat bantal dapat dilakukan setelah selesai upacara widhi widana. Upacara mejauman atau makta ketipat bantal juga sering disebut dengan upacara mepamit.
Pada saat mejauman tidak terdapat lagi pembicaraan penting, sebab sudah dianggap selesai pada saat Nyuwaka/memadik. Akan tetapi karena ada serah terima antara manggala banjar/desa masing-masing yang bersangkutan, disamping beberapa nasehat dari para orangtua atau keluarga kepada kedua mempelai tentang kramaning alaki rabhi, maka akan terdapat pembicaraan sebagai berikut .
Pemahbah
Pemahbah lan pengaksama, sesudah menghaturkan canang pengerawos. Pengaksama ring sang tamiu kedulurin antuk nyambat sara saha pengastungkara. Contoh dapat dibaca pada pemahbah saat nyuwaka.
Isi/Daging Bebawosan
Setelah diberi kesempatan oleh pembawa acara, pembicaraan dapat dilakukan oleh pihak keluarga laki-laki.
“Inggih nawegang titiang mantuka ring pengelingsir sane kusumayang titiang, semeton sinamian sane wangiang titiang. Asapunika taler mantuka ring Manggala Adat, Manggala Praja/Dinas, riantuk ledang rawuh sareng nyaksiang upacara mejauman/makta ketipat bantal/mepamit, titiang ngaturang suksemaning manah. Kaping ajeng lugrahin titiang ngaturang pengastungkara, Om Swastyastu”.
“Inggih manut panomayan titiang sane …….(sebutkan bilangan hari, hari dan tanggal pembicaraan sebelumnya) , sane mangkin titiang ngerahuin malih pengelingsir saha semeton sinamian. Taler titiang muat upakara merupa “ketipat bantal” maka serana mepamit anake alit. Upakara punika wastanin titiang “jauman”.
Mungguing mepamit anake alit, manut niskala lan sekala. Ring niskala, ngaturang sembah bakti ring Merajan, mepamit ring Ida Betara Kawitan, ring Ida Dewa Hyang Guru, dumogi ledang Ida nyaksinin saha ngicenin wara nugraha mangda sida pacang nemu kerahajengan.
Ring sekala, mepamit ring guru rupaka, ring semeton, bebanjaran, miwah sane siosan manut ketah sane sampun memargi iriki.
Inggih ngiring sareng-sareng ngerastiti mangda anake alit maka kalih nemu kerahajengan, tur petemon anake alit prasida ajeg kepungkur wekas.
Inggih, asapunika sane prasida katur antuk titiang”.
Setelah pembicara pihak keluarga laki-laki mengakhiri pembicaraannya, maka pembawa acara dapat melanjutkan ke acara pemberian nasehat kepada kedua mempelai dan serah terima antar Manggala banjar/desa. Apabila upacara mepamit di Merajan sudah selesai, maka kedua mempelai diajak bergabung bersama pengelingsir keluarga kedua belah pihak.
Selanjutnya pembawa acara dapat memberi kesempatan kepada keluarga kedua belah pihak secara bergiliran untuk memberi nasehat kepada kedua mempelai.
Disini dikemukakan contoh pokok-pokok nasehat yang terlebih dahulu dapat diberikan oleh pihak keluarga laki-laki.
“Inggih riantuk wenten pikarsa mangda titiang ngewentenang piteket amatra mantuka ring anake alit maka kalih, nanging titiang nunas ampura menawi wenten atur titiang nenten mantuk ring pekayunan.
Petitis titiang ring sang kalih, sane mangkin janten sampun ngelarang “grhasta” inggih punika kebawos “mepikurenan”. Sane lanang mewasta “Kepala Keluarga”, sane istri mewasta “Ibu Rumah Tangga”.
Piteket titiang ring sane lanang, inggih punika :
Pertama, swadarmaning/tugas kewajiban sang kepala rumah tangga ane mebuat tuah patut ngeruruh pengupa jiwa, ngeruruh pebuktian apang ada anggon ngemertanin raga, somah, miwah pianak.
Kekalih, sayaga teken pidabdabe mesima karma (bermasyarakat), pemekasne teken sesame pada manusa. Yan suba nyama braya makejang pada tresna sih, ento anggon kesugihan ane pinih utama.
Ketiga, bakti teken sang Guru Rupaka (Meme Bapa), keto masih teken matua apang patuh pelakuanne sekadi guru rupaka pagelahan. Tan patut melaksana kadi sesenggak Baline, “nyandat di teba”, bungane sumpanngin/bungain punyane kiladin, artine pianakne ane jegeg juang reramane lemenahang.
Sane mangkin piteket titiang ring sane istri, inggih punika:
Pertama, menawi wantah sangkaning jatu karma mawinan prasida ketemu mepikurenan. Mawinan dados mesikian mepikuren janten sampun sangkaning tresna sane janten sampun ketiba ring sang suami. Pemekas nyandang limbakang tresnane punika mantuka ring matua, ipah, saha sane tios-tiosan. Taler tan dados lali ring Aji Biyang (Bapa Meme) maka guru rupaka yadiastun pacang metinggal saking natah iriki riantuk tan sida pacang naur kepiutangan ring rerama.
Kekalih, kasih sayang ring suami patut kedulurin antuk patibrata inggih punika setia dan jujur kepada suami.
Inggih asapunika prasida antuk titiang mepiteket ring sang kalih dumadak wenten pikenoh ipun.
Selanjutnya kesempatan diberikan kepada keluarga pihak perempuan untuk memberikan nasehat kepada kedua mempelai.
“Inggih riantuk wenten pikarsa mangda titiang ngewentenang piteket amatra pinaka bekel ipun anake alit pacang mepikuren. Nanging petitis titiang kepertama, ketuju mantuka ring pengelingsir pinaka peserah titiang saha metempahang anake alit.
- Inggih, ipun anak alit titiang kantun wimuda durung pisan pratyaksa ring tata caraning alaki rabhi. Sane mangkin titiang nunas ring pengelingsir mangda ledang mepica pengajah ring separi polahing mesima, medesa, mebebanjaran, mepikurenan, miwah sakaluir ipun, janten sampun sewos desa sewos taler sima kramane.
- Asapunika taler ring sang Manggala, ledang ugi nerima ipun belog pacang misarengin pidabdabe ring banjar/desa pekraman
- Pet prade pungkuran wenten wicara, ngiring puputang wicarane punika nganutin sekadi pemargine mangkin mepengancan antuk arsa pada arsa
Selanturne petitis titiang kaping kalih ketiba ring anake alit maka kalih dumadak wenten kewigunan ipun.
- Mapan suba lakar ninggal swadarmaning Brahmacari ngardi ane madan Grhastha (berumah tangga), sing ja abedik gegodane. Gegodane ane paling utama tuah teka uli di deweke. Yen sida baan ngutsahayang, gegodane ane wit saking pedewekan ento nyandang kelidin apan ngerananyang tan rahayu pekurenane.
- Salinin laksanane. Eda nu ngaba laksana kadi nu bajang. Anutin laksanane kadi swa dharmaning “grhastha” mapan suba madan mepikuren. Cara sesonggan Baline, yen goba twara sida antuk ngesehin, nanging laksanane patut nganutin unduk.
- Nah, ene cening istri, sawireh cening lakar metilar uli jumah dini ene gisi pabesen Bapa/Aji: “ Dija ja cening megenah, tanahe ditu langkahin langite ditu sulubin”.
“Inggih pengelingsir sinamian, asapunika sida antuk titiang mapaungu atur. Pet wenten atur titiang sane nenten mantuk ring pekayunan titiang nunas geng rena sinampura”.
Kini giliran para manggala diberi kesempatan berbicara secara bergiliran berkenaan dengan serah terima antar manggala. Kesempatan pertama dapat diberikan kepada manggala dari pihak perempuan.
Manggala Praja/Dinas
“Inggih nawegang titiang mantuka ring pengelingsir sane wangiang titiang, para manggala dinas lan manggala adat sane wangiang titiang, titiang prajuru dinas saking banjar/desa ….. purun prasangga nyarengin bebawosan pengelingsir sinamian. Titiang nunas ampura antuk tambet tan uning matur, janten sampun nenten mantuk ring sejeroning pikayun.
Indik bebawosan sane piragi titiang iwawu sampun becik pisan. Sotaning titiang dados prajuru dinas, taler nyarengin mapaungu atur sapari indik anake alit istri warga banjar/desa titiange sane keambil ke …………
Mantuka ring prajuru dinas ring banjar/desa…… ring rahina …… tanggal …….. titiang melepas/nyerahang cacah jiwa warga titiang sane mewasta …….. ring manggala dinas banjar/desa …… saha mepiteges, rikanjekan ngewilangan surat-surat titiang misadia pacang ngelepas saking penduduk iriki saha ngewantu muputang surat-surat sane keperluang.
“Inggih pengelingsir sinamian, asapunika sida antuk titiang mapaungu atur.
Penyerahan oleh prajuru dinas banjar/desa dari pihak perempuan selanjutnya ditanggapi oleh prajuru dinas banjar/desa pihak laki-laki setelah diberi kesempatan oleh pembawa acara.
“Inggih nawegang titiang mantuka ring pengelingsir sane wangiang titiang, para manggala dinas lan manggala adat sane wangiang titiang, titiang prajuru dinas saking banjar/desa ….. purun prasangga nyarengin matur. Titiang nunas ampura pet prade wenten atur titiang nenten mantuk ring sejeroning pikayun.
Sotaning titiang dados prajuru dinas, taler nyarengin mapaungu atur sapari indik penyerahan cacah jiwa anake alit istri saking manggala dinas banjar/desa …..…………
Mantuka ring prajuru dinas banjar/desa…… ring rahina …… tanggal …….. titiang prajuru dinas banjar/desa…….. nerima penyerahang jajah jiwa anak alit istri sane mewasta …….. saha jagi unggahang titiang ring buku register kependudukan banjar titiang.
Taler titiang nunas ring prajuru dinas mangda ledang ngicenin “surat keterangan perpindahan penduduk” sane kebuatang anggen ngerereh “surat/akte perkawinan”, “kartu keluarga”, miwah sane tiosan nganutin uger-uger Guru Wisesa.
Inggih pengelingsir sinamian, asapunika sida antuk titiang mapaungu atur”.
Manggala Adat
Manggala/prajuru adat banjar/desa yang menyertai/menjadi saksi perkawinan adat Bali, pada saat mejauman diberi juga kesempatan untuk berbicara. Terlebih dahulu kesempatan itu dapat diberikan kepada manggala adat dari pihak perempuan.
“Inggih nawegang titiang mantuka ring pengelingsir sane wangiang titiang, para manggala dinas lan manggala adat sane wangiang titiang, titiang prajuru adat saking banjar/desa ….. purun prasangga nyarengin bebawosan pengelingsir sinamian. Titiang nunas ampura antuk tambet tan uning matur, janten sampun nenten mantuk ring sejeroning pikayun.
Titiang dados prajuru adat, taler nyarengin mapaungu atur sapari indik anake alit istri warga banjar/desa adat titiange sane keambil ke …………
Mantuka ring prajuru adat ring banjar/desa…… ring rahina …… tanggal …….. titiang melepas/nyerahang cacah jiwa warga titiang sane mewasta …….. ring manggala adat banjar/desa …… saha metempahang anak alit istri warga titiang.
Sampunang waneh ngicenan pengajah ring anake alit istri mangda sida antuka nganutin tata cara sane manggeh irika. Wenten sane kebawos desa mawa cara, janten sampun sewos desa sewos sima kramane.
“Inggih pengelingsir sinamian, asapunika sida antuk titiang mapaungu atur.
Penyerahan oleh prajuru adat banjar/desa dari pihak perempuan selanjutnya ditanggapi oleh prajuru adat banjar/desa pihak laki-laki setelah diberi kesempatan oleh pembawa acara.
“Inggih nawegang titiang mantuka ring pengelingsir sane wangiang titiang, para manggala dinas lan manggala adat sane wangiang titiang, titiang prajuru adat saking banjar/desa ….. purun prasangga nyarengin matur. Titiang nunas ampura pet prade wenten atur titiang nenten mantuk ring sejeroning pikayun.
Sotaning titiang dados prajuru adat, taler nyarengin mapaungu atur sapari indik penyerahan cacah jiwa anake alit istri saking manggala adat banjar/desa …..…………
Mantuka ring prajuru adat banjar/desa…… ring rahina …… tanggal …….. titiang prajuru adat banjar/desa…….. nerima penyerahang cacah jiwa anak alit istri sane mewasta …….. saha jagi unggahang titiang ring buku register banjar adat titiang. Taler anak alit istri jagi iring titiang nyarengin pidabdabe ring banjar pekraman, rawuh ring desa pekraman.
Inggih pengelingsir sinamian, asapunika sida antuk titiang mapaungu atur”.
Penutup
Setelah selesai pemberian nasehat kepada kedua mempelai maka pembicaraan sudah selesai, dan pembawa acara dapat segera mengakhiri/menutup pembicaraan.
“Inggih pengelingsir sareng sami sane wangiang titiang, manggala dinas lan manggala adat sane wangiang titiang, menawi bebawosan sampun puput. Dwaning titiang sane ngungkab bebawosanne titiang taler sane nyineb. Sedurung kesineb, titiang nenten lali nunas sinampura pet wenten atur titiang sane nenten munggah ring pikayun. Bebawosane jagi sineb titiang antuk nguncarang paramashanti, Om Shanti, Shanti, Shanti, Om.