Alkisah, nun jauh disana terdapat sebuah pulau kecil dimana Kekayaan, Kecantikan, Kebahagiaan, Kesedihan, Pengetahuan, dan segala perasaan lain termasuk Cinta, tinggal bersama. Suatu saat, mereka mendapati bahwa pulau yang mereka tinggali akan tenggelam. Tanpa membuang waktu mereka membangun kapal sendiri-sendiri untuk menyelamatkan diri. Ya, semuanya. Kecuali Kasih. Hanya dia yang memutuskan untuk tetap tinggal dan bertahan sampai saat terakhir. Ketika pulau itu hampir tenggelam, Kasih memutuskan untuk meminta tolong.
Kekayaan lewat di depannya dengan kapal pesiarnya yang mewah. Kasih berkata, “Maukah engkau membawaku?”
Jawab Kekayaan, “Tidak bisa. Banyak emas dan perak di kapalku. Kehadiranmu hanya menambah berat kapalku”.
Maka Kasih meminta tolong pada Kecantikan yang lewat dengan kapalnya yang indah. “Wahai Kecantikan, tolonglah aku”.
Jawab Kecantikan, “Aduh, maaf ya, aku tidak bisa menolongmu. Nanti kapalku rusak”.
Saat itu, Kesedihan lewat, dan Kasih memohon, “Kesedihan, bawalah aku bersamamu”.
Jawab Kesedihan, “Aduh sayang, aku ini begitu sedih. Aku ingin sendirian saja”.
Kebahagiaan juga lewat di hadapan Kasih, namun sayang, karena begitu gembira, ia tak mendengar seruan minta tolong temannya.
Tiba-tiba, “Ayo Kasih, ikutlah denganku”, seru seorang bijak. Saking gembiranya, Kasih naik ke kapalnya, sampai-sampai ia lupa menanyakan kemana tujuan mereka. Ketika mereka tiba di sebuah pulau, si bijak meninggalkan Kasih sendiri. Karena merasa sangat berutang budi pada si Bijak, Kasih bertanya kepada Pengetahuan, seorang bijak lainnya. “Siapa tadi yang menolongku?” “
Namanya WAKTU,” jawab Pengetahuan.
“WAKTU ? Tapi mengapa Waktu menolongku ?”
Pengetahuan tersenyum bijak dan berkata, ”Sebab hanya waktulah yang bisa memahami betapa berharganya Cinta Kasih itu”.
Sahabat, Waktu adalah batu ujian dari Cinta yang Sejati dan semua hal lainnya. Cinta Sejati tak lekang digerus sang Waktu. Bahkan, dengan bertambahnya waktu ia malah menjadi semakin berharga dan semakin langka. Nilainya semakin tinggi.
Sumber : Natasha, Edisi XIX Juli-Agustus 2009
Selasa, 09 Februari 2010
Waktu dan Cinta Sejati
Label:
Inspirasi
Minggu, 07 Februari 2010
Prestasi dan Penghargaan
Eda ngaden awak bisa,
Depang anake ngadanin
Kalimat berbahasa Bali di atas kalau saya terjemahkan secara bebas berarti: janganlah (kita) merasa atau mengira diri sudah mampu atau pintar, biarkan orang lain menilai dan memberi nama. Saya memaknai kalimat tersebut mengandung pesan agar kita bersikap rendah hati, tidak menggembar-gemborkan kemampuan, kepintaran, atau kehebatan diri (yang kadang-kadang belum seberapa). Apalagi kemampuan, kepintaran, atau kehebatan diri yang digembar-gemborkan itu hanya sebatas wacana.
Sebagus dan sehebat apa pun ceritera kita tentang kemampuan, kepintaran, atau kehebatan diri, pada akhirnya kita harus dapat membuktikannya. Pada awalnya mungkin orang lain akan terkesan dengan apa yang kita ceriterakan. Mereka kagum dengan kemampuan, kepintaran, atau kehebatan diri kita. Tetapi apabila dikemudian hari kita tidak dapat membuktikan kemampuan, kepintaran, atau kehebatan diri dengan prestasi yang nyata, maka rasa terkesan atau rasa kagum orang lain itu tidak akan bertahan lama. Rasa terkesan dan rasa kagum itu secara perlahan akan sirna.
Jika kita memang orang yang mampu, pintar, atau hebat (sekali pun tanpa ceritera yang hebat dari diri kita), orang lain akan menemukan kehebatan itu lewat prestasi nyata yang kita hasilkan. Dalam perjalanan waktu kalau pun sesekali kita tidak mampu membuktikan apa yang kita ucapkan, orang lain mungkin akan mengabaikan atau memaafkan. Akan tetapi jika kita ingin meninggalkan kesan baik yang bertahan lama kita harus dapat membuktikan hasil nyata dari ucapan tersebut.
Oleh karenanya, kita harus membiasakan untuk menunjukkan kemampuan diri dengan tindakan nyata. Membiasakan diri mengggunakan kemampuan, kepintaran yang dimiliki (sekali pun kecil) untuk menghasilkan prestasi nyata. Orang lain akan memberi penilaian dan memberi nama atas hasil/prestasi dari tindakan kita. Mereka (orang lain) juga yang akan memberi penghargaan atas prestasi nyata kita. Kita tak akan pernah meraih penghargaan apapun dari orang lain tanpa melakukan sejumlah tindakan
Baca Selanjutnya......
Label:
Inspirasi
Langganan:
Postingan (Atom)